Marketing is an important part in business. | www.nicothemarketer.com

Marketing is a social process in which individuals and groups obtain what they need and want by creating, offering and freely exchanging products of value with others. More »

Seo Concept. | www.nicothemarketer.com

Take advantage of seo knowledge to improve business transactions More »

Success is a goal in every human struggle. | www.nicothemarketer.com

Be successful societal, so you can be useful for families and others More »

Enjoy your life with beautifull environment. | www.nicothemarketer.com

looks beautiful, looks cool and healthy More »

 

Tag Archives: jumlah entrepreneur kurang

Kurangnya Jumlah Entrepreneur di Sebabkan Orang Indonesia Takut Ambil Risiko

Sebuah artikel di Harian Seputar Indonesia, menarik perhatian saya.

Jumlah pebisnis atau wirausahawan di Indonesia masih sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Salah satu penyebabnya adalah perilaku masyarakat Indonesia.

Dalam melakukan bisnis, perilaku masyarakat Indonesia tidak mau mengambil risiko. Meski tidak mau mengambil risiko adalah sebuah tindakan yang wajar dalam kehidupan, dalam berbisnis hal itu menjadi tidak wajar.

“Umumnya di Indonesia perilakunya tak mau ambil risiko. Untuk itu, banyak sekali yang mau menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Padahal, dengan gaji PNS tanpa korupsi, seumur hidup gaji mereka akan habis untuk sekali ke Amerika,” ungkap Director Center for Innovation Entrepreneurship and Leadership sekaligus dosen di Sekolah Bisnis ITB, Dwi Larso pada penyelenggaraan The 2nd Indonesia International Conference on Innovation Entrepreneurship and Small Business(IICIES) 2010 kemarin.

Jadi, masalah rendahnya jumlah entrepreneur di Indonesia adalah masalah mental dan budaya.

Apakah karena bangsa kita terlalu lama dijajah ya?

Dari sejarah yang saya ketahui, Belanda itu dengan politik devide et empera-nya menarik orang-orang Indonesia untuk bekerja pada pemerintah Belanda. Padahal mereka sebenarnya dijadikan sebagai bemper untuk melawan rakyatnya sendiri.

Mereka diangkat jadi juru tulis, asisten, administrator, sampai jadi Bupati atau Demang. Derajat mereka ditinggikan oleh Belanda, terlihat keren oleh masyarakat, dipuja puji dan menjadi idaman para perempuan.

Penampilan mereka selalu rapi, bersih, terlihat intelek. Lama kelamaan profesi menjadi pegawai itu menjadi primadona para orang tua untuk mencarikan jodoh anak perempuannya.

Indonesia baru merdeka 64 tahun, sementara dijajah 350 tahun. Jelas, pengaruh yang ditanamkan para penjajah masih bercokol di benak sebagian besar orang Indonesa.

Sebagian besar masyarakat menilai bahwa menjadi wirausaha itu adalah “pilihan terpaksa” lantaran tidak diterima kerja.

Ada teman di Surabaya yang orang tuanya begitu malu dengan pilihan anaknya menjadi wirausaha. Setiap ditanya apa pekerjaan anaknya yang lulusan sarjana itu selalu dijawab, “Dia usaha sendiri”.

Istilah “usaha sendiri” itu sebenarnya adalah kata-kata yang mencerminkan keminderan, malu dan jauh dari bangga. Istilah “usaha sendiri” itu adalah profesi yang dijalani setelah “tidak laku” di pasar tenaga kerja.

Dulu saya pun mengalami keminderan serupa. Perusahaan-perusahaan tidak tertarik dengan saya lantaran nilai IPK saya tidak meyakinkan. Kalau pun sempat ikut tes psikologi, saya selalu gagal karena tidak tahan dengan tes yang penuh tekanan itu. Saya sukanya hidup bebas.

Maka saya pun memilih jalan pragmatis dengan “usaha sendiri”. Apa saja saya kerjakan. Mulai dari ikut MLM, jualan roti, jualan komputer, jualan ATK, freelancer asuransi, jualan kayu, jualan bahan bangunan sampai jualan pakaian.

Terus terang, saya malu dan minder dengan status ini. Sementara teman-teman seangkatan saya sudah mulai hidup enak dengan gaji dari kantornya. Satu per satu sudah mulai punya mobil. Hidupnya begitu mantap, berjalan lurus. Bandingkan dengan saya yang selalu belok-belok, turun-naik, terbentur sana sini. Sedih juga.

Jadi, wajar saja banyak orang tua yang tidak siap melihat anak kesayangannya mengalami nasib seperti itu. Risikonya besar sekali, terutama risiko mental. Mereka tidak ingin anaknya susah. Menjadi wirausaha adalah mencari susah. Mereka ingin anaknya hidup enak, terjamin, jalannya lurus sejak awal. Jadi pegawai adalah jalan impian paling aman.

Hasilnya? Orang Indonesia banyak yang jadi pegawai dan sangat sedikit jadi wirausaha.

Sumber: roniyuzirman